Sahabatku… Dzat Maha menganugerahkan
akal bagi manusia agar manusia mampu menerima wahyu. Dan apabila manusia
bersungguh-sungguh dalam memahami wahyu, maka Dzat Maha akan menurunkan hidayah.
Selama ini kita mengartikan wahyu
sebagai pesan yang hanya diturunkan kepada para utusan. Betul memang, karena para
utusan senantiasa memantaskan diri mereka, agar memiliki kemampuan untuk
membangun kenetralan diri guna menangkap setiap wahyu-wahyuNYA.
Namun sebenarnya setiap manusia
adalah utusan Dzat Maha bagi semesta. Jadi kalau manusia percaya kalau
kehadirannya diatas muka Bumi ini bukan kebetulan, dimana manusia percaya kalau
kehadiran dirinya karena diutus untuk memberi makna dalam lautan energi ini,
maka kepercayaannya itu akan membangkitkan kesadaran akal yang senantiasa
mencari wahyu.
Hidup ini memiliki satu cara unik,
yaitu you become what you believe. Tugas
awal kita adalah perlahan-lahan melepas belenggu-belenggu believe yang mengkerdilkan keberadaan dirinya sendiri.
Setiap yang ada memiliki makna,
dan setiap makna menghadirkan fungsi. WahyuNYA tersebar agar setiap utusan
(manusia) mampu menjalani hidup sesuai makna dan fungsinya masing-masing.
Manusia yang sudah menyadari
makna dan fungsi kehadiran dirinya, maka akalnya akan terus bergetar sebagai
radar penangkap wahyu. Lalu menjadi gerbang pembawa pesan hidayah bagi semesta.
Manusia-manusia ini tidak perlu disebut sebagai utusan, karena kebanyakan
mereka pun tidak menyadari hal itu.
Kita biasa menyebut mereka
sebagai penemu, pendobrak, pembawa ide dan inovasi. Apapun sebutannya,
mereka-mereka ini terus menerus beraksi, menyebar kemakmuran dan memperbaiki
garis sejarah umat manusia di muka Bumi ini.
Jadi apakah itu sebenarnya wahyu?
Sahabatku… Wahyu itu adalah cahayanya
akal. Akal manusia yang mau berpikir dalam kenetralan maka akan tersinari
dengan wahyu, dan dengan sinar itulah akhirnya diri mampu menangkap hidayah untuk
terus beraksi memperbaiki apapun yang ada dihadapannya.
Wahyu itu bisa hadir dalam wujud masalah,
kebutuhan, keburukan, kesakitan, dan kekecewaan. Lalu seseorang yang menyaksikan
wahyu itu dengan akalnya memilih mau memberpikirkan apapun yang ada di hadapan
secara netral. Akhirnya seseorang itu lalu beraksi. Sampai akhirnya didalam
aksinya itu Dzat Maha memberinya hidayah dalam bentuk sebuah solusi, jalan
keluar, ide, maupun inovasi-inovasi.
Berkat hidayah dari Dzat Maha itulah
muncul karya-karya nyata dari hasil manusia-manusia yang mau mewujudkan hidayaNYA
menjadi kemakmuran bagi dirinya dan bagi sekitarnya.
Sahabatku… Dari perputaran proses
ini akhirnya kita bisa memahami tiga hal penting :
Pertama, wahyu hanya bisa terlihat
oleh akal yang mau beraksi.
Kedua, hidayah hanya bisa
diterima oleh akal yang mau beraksi.
Ketiga, karya nyata hanya bisa
tercapai oleh akal yang mau beraksi.
Ujung dari wahyu, hidayah dan
karya nyata adalah AKAL yang beraksi. Kita tidak membicarakan hati disini. Karena
bagaimana hati seseorang juga tergantung dengan seberapa ber-akalnya seseorang.
Memang sudah saatnya lah kita
menggunakan akal dan tidak lagi meng-ingkari akal kita sendiri. Bukankah akal
ini adalah anugerahNYA?
Betapa banyak wahyu-wahyuNYA yang
tertulis yang mengajak umat manusia untuk berakal dan bukan sekedar beriman. Karena
pada prakteknya, iman juga harus didukung oleh akal yang jernih. Sehingga iman
kepadaNYA bukan sekedar pengakuan di mulut saja. Melainkan iman yang penuh
dengan pembuktian aksi.
Manusia yang mengaku beriman juga
membutuhkan akal, agar dirinya mampu mengendalikan ego-ego yang memenuhi
otaknya, agar dirinya terarah sesuai dengan arahanNYA. Sehingga orang yang
mengaku beriman itu bisa hidup lurus didalam ajaranNYA.
Jadi sahabatku… Memang kita harus
memastikan kalau hanya akal-lah yang memimpin diri, sehingga diri bisa bergerak
sesuai tugas dan fungsi awalnya diutus ke atas muka Bumi ini.
Detik ini mari kita masuk kedalam
diri, untuk mengukur kejernihan akal kita masing-masing. Tutuplah dahulu
tirai-tirai itu untuk melihat kenetralan akal kita sendiri. Janganlah menilai apapun
yang kita lihat keluar.
Kenetralan akal tidak hadir dari
seorang yang pintar menilai apa yang dia lihat. Melainkan hadir dari seseorang
yang memberpikirkan bagaimana akalnya melihat penglihatannya.
Karena kenetralan tidak
membutuhkan penilaian. Kenetralan adalah kesucian mata yang tidak menilai. Karena
kalau mata ini dibuat olehnya untuk menyaksikan buatan-buatanNYA, maka bagian
mana dari mata ini yang menyaksikan sesuatu yang selain buatanNYA.
Kalau segalanya hanyalah DIRINYA
maka bagian mana lagi yang patut kita nilai, bukan begitu?
Akhirnya mata yang tidak lagi
sibuk menilai, hanya menyibukkan diri menyaksikan wahyuNYA. Lalu merubahnya
menjadi hidayah.
Lalu apakah mereka yang telah
sibuk ini akan sibuk mencari penilaian-penilaian manusia?
Tidak perlu sahabatku… Dalam diri
mereka yang sibuk ini sudah sadar kalau segalanya hanyalah bersumber dariNYA. Tidak
lagi perlu nilai yang dinilai, kalau segalanya hanyalah diriNYA.
Semoga bisa kita praktekkan
bersama sahabatku…
Salam Semesta
Copyright 2020 ©
www.pesansemesta.com